dari dulu memang aku tidak pernah suka keramaian dan kesesakan Jakarta. Maaf ya,” jawabku agak keberatan. Bokep Jari tengahku kemudian mengelus lipatan basah itu. Kilatan cahaya dari luar bus memberikan sedikit penglihatan mengenai ibu di sampingku. Ya, payudaranya. Aku mulai terangsang.Aku mencoba untuk lebih berani. Dan itu membuatku melayang.Tanganku juga tidak mau kalah, seperti mempunyai mata sendiri yang bergerak mencari sasarannya. Pelan dan sedikit menekan. Semakin cepat. Aku membuka tas dan mengambil sweater. Sangat merangsang. Uh, begitu romantis. Kulirik matanya. Sangat merangsang. Yup, susah sekali. Kami berdua menjadi duduk berdempetan. Aku kembali menggesekkan kakiku, menunggu responsnya. Aku paling suka gelap. Mengurangi kebisingan akibat lalu lalang orang mencari tempat duduk.“Mas, mas, maaf …,” ada suara merdu rupanya. bahan kain celana dalamnya halus sekali. Bayanganku memang menjadi kenyataan.











