Pak Tommy ternyata menjualku pada para pria hidung belang, bukan sekedar untuk membayar hutangku, namun juga untuk membiayai bironya yang hampir bangkrut itu.Banyak bos-bos yang rela merogoh koceknya dalam-dalam untuk diberikan pada Pak Tommy, demi memperoleh kesempatan menjepitkan penisnya ke dalam liang vagina dan anusku. Aku ingin menolak dan lari, namun aku sadar bahwa aku tidak lagi punya kuasa. Bokep Iapun segera menarik penisnya dari anusku. Aku heran, dia tidak merasa jijik. Sungguh, aku merasa menjadi seorang perempuan murahan yang bisa dinikmati oleh pria Cina itu demi sejumlah uang.Suatu ketika, seorang pesuruh kantor bernama Pak Muklis memberitahuku bahwa Pak Tommy memanggilku untuk datang ke ruangannya.“Mbak, Pak Tommy manggil mbak ke ruangnya”“Huh… ada apa lagi nih??” tanyaku dalam hati.




















