Mbak Lia menggelinjang sambil menarik rambutku dengan manja. Pada saat itulah aku mendapat kesempatan memandang hingga ke pangkal pahanya. Bokep Mengelus-elus pergelangan kakinya. Seandainya rintihan itu terdengar pun, aku tak peduli. “Kunci dulu pintu itu,” katanya sambil menunjuk pintu ruang kerjanya. Sebelah lututku menyentuh karpet. Tak pernah aku melihat paha semulus dan seindah itu. Suka betis Mbak. Mengangkang. Dan dengan cepat membenamkan wajahku di G-string yang menutupi pangkal pahanya. Mbak Tia masih tersenyum. Pesona yang membutuhkan sanjungan dan pujaan.“Periksalah, Jhony. Nafasnya mengebu. Aah, aku menghembuskan nafas. Lalu aku menengadah. “Hirup aromanya!” sambungnya sambil menekan kepalaku sehingga hidungku terselip di antara bibir kewanitaannya.Pahanya menjepit leherku sehingga aku tak dapat bergerak. Aku belum pernah diperintah seperti itu. Mbak Lia tersenyum sambil menatap mataku. Dan paha itu semakin jelas. Sambil tetap mengelus betisnya, kuluruskan kaki




















