Gerakannya lambat seperti bermalas-malasan. Bokepviral Kulepaskan klip tali sepatunya. Telapak tangannya mengusap pipiku beberapa kali, lalu berpindah ke rambutku, dan sedikit menekan kepalaku agar menunduk ke arah kakinya.“Ingin tahu warnanya?” Aku mengangguk tak berdaya.“Kunci dulu pintu itu,” katanya sambil menunjuk pintu ruang kerjanya. Ada segaris kebasahan terselip membayang di bagian tengah segitiga itu. Apalagi diperintah untuk berlutut oleh seorang wanita. Bagian mana yang akan kau cium?”“Betis yang indah itu!”“Hanya sebuah ciuman?”“Seribu kali pun aku bersedia.”Mbak Tia tersenyum manis dikulum. Dan kali ini tatapanku terbentur pada secarik kain tipis berwarna putih. Hembusan nafasku ternyata membuat bulu-bulu itu meremang.“Indah sekali,” kataku sambil mengelus-elus betisnya. Sambil menatap pesona di depan mataku, aku menarik nafas dalam-dalam. Wajahku menengadah. Pada kecupan yang kedua, aku menjulurkan lidah agar dapat mengecup sambil menjilat, mencicipi kaki indah itu.




















